Sinar mentari perlahan muncul memasuki celah-celah tirai kamar
seorang wanita yang usianya baru saja memasuki kepala empat. Waktu itu langit
menampakan keindahannya dengan hiasan gumpalan awan putih yang terlihat seperti
kapas dan terkadang bagaikan segerombolan domba yang sedang asyik bermain di
padang rumput yang luas.
Hari itu adalah hari yang spesial baginya. Seorang wanita yang
bernama Mia kini dia genap berusia empat puluh tahun. “Alhamdulillah, Allah
masih memberiku kesempatan untuk senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya. ”Gumamnya
dalam hati. Dia lalu membuka tirai kamar tidurnya dan melihat sekelompok burung
pipit yang bersiul dengan ria tanpa memikul beban apapun. “Dulu aku suka
menangkap burung di sawah bersama teman-temanku,” ujarnya sembari melamun. Dia
teringat saat dirinya masih seorang anak kecil yang polos.
Saat masih kecil, ia sangat suka bermain bersama teman-temannya,
berenang di sungai, mencari buah-buahan yang jatuh dari pohonnya dan memancing
ikan di kolam kecil milik ayahnya.
Pada suatu sore ia melihat ayahnya bergegas. “Ayah mau pergi
kemana?” tanya Mia.
“Ayah mau bermalam di gubuk
dekat sawah” jawab sang ayah.
“Boleh Mia ikut gak?” bujuk Mia.
“Kalau nanti kamu kedinginan gimana?” ujar sang ayah mencari
alasan agar anaknya tidak ikut.
“Kan aku kuat yah, kalau Cuma kedinginan gak akan kenapa-kenapa,
boleh yaa?” Mia mencoba meyakinkan ayahnya.
“Oke tapi sekali ini saja ya” pungkas ayahnya.
“Horeeee….. ikut ke sawah.”
Mereka pun berangkat ke sawah dengan berjalan kaki. Matahari mulai
redup menjauhi mereka dan meninggalkan kegelapan yang semakin samar. Tak terasa
jam dinding sederhana di dalam gubuk sudah menunjukan angka delapan tepat.
Tiba-tiba “auuuuw……” suara serigala hutan terdengar mengaum dari kejauhan.
“Ayah Mia takut” rengek Mia.
“Sudahlah kamu tak perlu takut, serigala-serigala itu sudah biasa
berkeliaran di sekitar sawah kita saat malam-malam begini,” ujar ayahnya
mencoba menenangkan.
“Tapi Mia takut.” Mia merengek karena ketakutan.
“Mereka gak akan ganggu kita kok, asal kita juga jangan ganggu
mereka.” Ujar sang ayah menenangkan. Akhirnya mereka pun tertidur pulas di
dalam gubuk.
Keesokan harinya teman-teman Mia datang untuk bermain di sungai
yang berada di dekat sawah milik ayahnya. “Miaaaa…. Main yuk mumpung masih pagi”
anak-anak itu berteriak dari kejauhan.
“Gak mau ah dingin” jawab Mia.
“Yaaa cemen masa kalah sama dingin sih,” ejek mereka sambil
membalikan jempolnya.
“Oke kalau gitu ayo kita renang.”
“Nah gitu dong, baru pemberani,” kata mereka.
Tujuh tahun kemudian, tak terasa dia sudah berusia lima belas
tahun dan tibalah saatnya untuk memasuki jenjang pendidikan Sekolah Menengah
Atas. Dia memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di MAN Sukamanah yang
jaraknya cukup jauh sekitar empat puluh kilometer dari rumahnya. Untuk
menghemat tenaga dan biaya, dia memilih untuk tinggal di pondok pesantren
Sukahideng yang berdekatan dengan sekolah itu.
Pada suatu malam yang gelap, saat dia tengah membereskan lemari
pakaiannya, datanglah seorang gadis yang usianya kira-kira sama dengannya
bersama satu orang temannya. “Hai kamu anak baru ya?” Mia yang tengah
membereskan pakainnya agak terkejut namun segera membalas sapaan mereka dengan
senyumnya yang manis. “Hai juga, iya aku anak baru di sini aku dari daerah
Cikatomas, kalau kalian?” Tanya Mia.
“Sama kami juga anak baru di sini dan kami berasal dari Cirebon,
kenalin aku Ratna dan ini saudaraku namanya Dini.” Jawab mereka sambil
menurunkan tas yang terlihat penuh.
“Aku Mia, enak ya kalian bisa tinggal di sini sama-sama, Sedangkan
aku? Hmmm…” ujarnya menggerutu.
Mereka akhirnya berteman dengan baik dan selalu bersama-sama
kemana pun mereka pergi. Namun, hari-hari yang Mia jalani di kota orang bisa
dibilang sangatlah sulit. Bagaimana tidak, dengan kondisi ekonomi keluarganya
yang serba terbatas sedangkan kebutuhannya yang semakin kompleks membuat ia dan
keluarganya harus berjuang cukup keras agar ia bisa tetap sekolah sampai lulus
dari sana.
“Ya Allah apakah aku bisa bertahan di dalam situasi yang begitu
menyulitkanku? Aku hanya bisa membebani orang tuaku.” Keluhnya sambil mengusap
air matanya yang jatuh membasahi pipinya yang terlihat seperti bawang merah. “Sudahlah
kamu jangan terus memikirkan bagaimana caranya kamu bisa mencukupi kebutuhanmu
di sini. Yakinlah kalau Allah akan menolong hamba-Nya yang sedang mencari ilmu.”
Ujar Ratna teman yang selalu setia
menemaninya. “Tapi aku bingung, aku cuma bisa nyusahin orang tuaku saja, kalau
kamu enak bisa hidup serba berkecukupan sedangkan aku?” ujar Mia menatap Ratna
dengan raut wajah kesedihan.
“Iya tapi kamu harus yakin kalau kamu bisa Vi, kamu itu kuat.” Ratna
mencoba meyakinkan sahabatnya tersebut.
Akhirnya Mia bertekad akan berusaha dengan giat agar menjadi orang
sukses dikemudian hari. “Pokoknya aku harus bisa mengubah nasibku, aku harus
bisa membuat orang tuaku bahagia.” Ujar Mia mencoba menyemangati dirinya
sendiri.
Hari demi hari terus ia jalani, ia menjadi siswa yang rajin di
sekolahnya. Namun karena kesibukannya, ia sering lupa sarapan pagi hingga suatu
saat ia merasakan sakit di perutnya. “Aduuh perutku sakit.” Ujarnya sambil
memegang perutnya yang tengah kesakitan.
“Kamu kenapa Vi?” tanya Dini.
“Gak tahu tiba-tiba perutku terasa sangat sakit.”
“Kamu sih suka telat makan, mungkin kamu menderita sakit maag.” Timpal
Santi teman sebangku Mia.
“Mau aku bawa ke UKS? “ Tanya Dini menambahkan.
“Oke deh ayo” jawab Mia.
Jam dinding menunjukan pukul 14.00 tibalah saatnya bel pulang
sekolah berbunyi, “treng..treng..treng..,” “horee..” teriak para murid
laki-laki dengan riang gembira menyambut jam pelajaran berakhir.
Akhirnya Mia pulang dengan digandeng oleh Ratna dan Dini. “Perut
kamu masih sakit gak?” tanya Ratna.
“Alhamdulillah sekarang udah mendingan” jawab Mia sambil tetap
memegangi perutnya yang masih terasa sedikit sakit. “Makannya jangan lupa
makan” ujar Dini mencubit tangan Mia.
“Auwwww… sakit tahu kayak anak kecil aja.” Jerit Mia yang kesal
dicubit temannya tersebut.
“Anak kecil kan suka lupa makan, apa bedanya sama kamu.” Ejek Dini
dengan nada bercanda.
“Iya deh, nanti gak akan lupa lagi.”
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Kini Mia sudah menginjak
kelas 12. Suatu hari saat pertama masuk kelas baru, suasana begitu ramai dengan
suara murid laki-laki yang sangat gaduh menikmati awal mereka tinggal di kelas
yang baru. “Hai, gak nyangka kita bisa sekelas lagi ya, hehe…” kata Ratna
kepada Mia dan Dini.
“Iya nih udah kaya puzzle aja gak bisa dipisahin” timpal Dini.
Empat bulan berlalu, rencananya sekolah akan mengadakan praktik
kerja lapangan yang dikhususkan bagi siswa kelas 12, dan tempat yang menjadi
tujuan adalah daerah Yogyakarta, tepatnya di candi Borobudur. Mereka ditugaskan
untuk mencari informasi mengenai objek tersebut serta kehidupan masyarakat yang
tinggal di daerah sekitar kawasan Yogyakarta.
“Vi, kamu satu kelompok sama siapa?” Tanya Ratna disela-sela waktu
istirahat.
“Mmm…aku sama Fauzi, Hendi, Sifa dan Lia.” Jawab Mia. “Aku
penasaran suasana di sana kayak gimana ya?” gumam Dini penasaran.
Hari keberangkatan PKL pun tiba. Mereka bergegas untuk segera
berangkat. Perjalanan pun dimulai dan ada kejadian lucu selama di perjalanan,
Zenal seorang murid laki-laki yang dikenal ceria dan tak bisa diam di kelas
ternyata mabuk perjalanan hingga ditertawakan oleh teman-temannya yang lain. “Hahaha
semalam aku mimpi apa ya, baru kali ini aku lihat kamu diam seribu bahasa,”
kata Dian sambil memainkan sedotan di tangannya.
“Udah gitu diamnya karena mabuk lagi, haha…” timpal Robi mengejek.
Akhirnya selama Sembilan jam perjalanan mereka pun tiba di lokasi,
dan mulai melakukan tugasnya masing-masing yaitu mencari informasi tentang
candi Borobudur dan kehidupan masyarakat yang berada di daerah tersebut. Mereka
melaksanakan tugasnya selama dua hari lalu diberi waktu untuk jalan-jalan dan
menyegarkan kembali pikiran mereka. Ada yang berbelanja baju, makanan, dan ada
juga yang hanya sekedar jalan-jalan santai.
Tak terasa, pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan sudah berakhir.
Mereka pun pulang dan istirahat di rumah masing-masing. “Aduuh cape banget,”
ujar Ratna.
“Iya nih capeee” tambah Mia sambil membaringkan tubuhnya di atas
kasur.
Hari-hari terus berjalan. Mia tumbuh menjadi anak yang cerdas
berkat semangat dan kerja kerasnya yang
membara. Namun, di tengah-tengah kesehariannya, mungkin karena kecapean dia
jatuh sakit selama satu minggu. “Vi kita berobat yuk biar kamu cepet sembuh.”
Ujar Ratna khawatir. “Gak perlu, aku gak punya uang untuk berobat” jawab Mia.
“Kamu gak perlu khawatir aku dan teman-teman yang lain siap membantu kok.”
“Makasih ya, kalian udah baik banget sama aku.” Ucap Mia terharu.
“Kami semua kan temanmu juga, kesembuhanmu juga kebahagiaan bagi
kami.”
Akhirnya Mia dibawa
ke rumah sakit dan menjalani perawatan selama tiga hari. Meskipun sedang dalam
kondisi yang tidak sehat semangatnya untuk belajar tidak pernah pudar, tetapi
malah semakin berkobar.
Setelah sakitnya sembuh, dengan tekad yang kuat Mia segera
mengejar ketertinggalannya dalam pelajaran sekolah yang tidak ia pahami. Setiap
ada waktu luang, Mia meminta bantuan kepada temannya agar bersedia untuk
menerangkan materi yang ia tinggalkan selama masih mengalami sakit. “Yun, ajari
aku Matematika ya… aku belum paham nih,” bujuk Mia.
“Oke aku ajarin, tapi ada syaratnya” ujar Yuni siswi yang terkenal
pintar dalam pelajaran Matematika di kelasnya. “Yaah kok ada syaratnya sih, oke
deh aku janji, tapi apa syaratnya” ujar Mia penasaran.
“Syaratnya sebelum aku ajarin kamu matematika, kamu harus temani
aku main puzzle sama rubik dulu, oke?”
“Oke deh itu gampang, hehe” ucap Mia sambil tertawa.
Tak terasa waktu
terus berjalan, sebentar lagi dia akan dihadapkan dengan Ujian Nasional yang
tinggal beberapa bulan lagi.
“Huh gak kerasa ya kita udah hampir tiga tahun di sini, hoaam”
ujar Ratna di tengah teman-temannya yang sedang belajar bersama.
“Iya yah gak kerasa banget udah mau UN.” Timpal Dini.
“Eh rencananya nanti kamu mau kuliah di mana Vi? Tanya Ratna.
“Gak tahu nih aku juga masih bingung mikirinnya.”
Waktu ujian
nasional sudah semakin dekat, seluruh siswa-siswi MAN Sukamanah mulai giat
belajar agar mereka bisa lulus ujian dengan hasil yang memuaskan. Program
pengayaan mulai dikebut, guru-guru sibuk melatih anak didiknya dengan materi
dan soal yang bervariasi. Karena syarat untuk lulus ujian nasional minimal
harus meraih nilai 5,5.
Mia bertekad untuk
meraih nilai teringgi di sekolahnya. Dia mulai berlatih mengerjakan soal-soal
yang didapat dari gurunya dan sebagai tambahan keilmuannya Mia juga membeli
buku-buku yang berisi soal dan pembahasan Ujian Nasional pada tahun-tahun sebelumnya yang uangnya
diperoleh dari hasil tabungannya yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit. “Aku
harus membuktikan kalau aku bisa.” Gumamnya dalam hati.
Tibalah waktunya
Ujian Nasional yang berlangsung selama empat hari. Hasil belajar dan latihan
yang selama ini mereka jalani dipertaruhkan dalam momen tersebut. Akhirnya usai
sudah perjuangan terakhir mereka di jenjang putih abu. Beberapa minggu kemudian
hasil Ujian nasional diumumkan.
“Huh deg-degan nih nungguin hasilnya, mudah-mudahan kita bisa
lulus dengan hasil yang memuaskan.” Ujar Mia ditengah kerumunan teman-temannya
yang sedang berbagi cerita. “Aamiin” ucap mereka kompak.
Pada suatu pagi
yang cerah dengan berpakain seragam putih abu, anak-anak MAN Sukamanah
berkumpul di Aula untuk menerima pembagian hasil Ujian Nasional. Dengan mimik
wajah yang terlihat cemas, tentu saja mereka berharap mendapat nilai yang
memuaskan. Bapak kepala sekolah membuka acara dan menyampaikan ceramah
singkatnya.
“Baiklah mari kita bersama-sama membuka hasil Ujian Nasional yang
sudah kalian jalani beberapa minggu yang lalu, bismillaahirrahmaanirrahiim,”
amplop dibuka secara serentak dan ternyata apa yang diharapkan dan
dicita-citakan oleh Mia terkabul. Dia meraih nilai yang cukup memuaskan, total
nilai rata-ratanya mencapai 9,3.
“Horeee.., Alhamdulillah aku berhasil” ucap Mia dengan perasaan
gembira seraya meneteskan air mata.
“Selamat yaa…” teman-temannya memberi ucapan selamat kepadanya. “Ternyata
kerja keras kamu selama ini tidak sia-sia, aku juga seneng liatnya.” Timpal
Ratna.
Berakhirlah sudah
perjuangannya selama tiga tahun di MAN Sukamanah. Meskipun jalan yang ia lalui
sangat berliku namun ia berhasil melaluinya dan meraih hasil yang memuaskan.
Mia memutuskan
untuk melanjutkan pendidikannya di salah satu universitas ternama di Bandung
dengan mengambil fakultas pendidikan Ekonomi dan akhirnya lulus sebagai seorang
pendidik yang bergelar S2. Kebahagiaannnya semakin bertambah karena setelah itu
dia juga menikah dengan temannya saat kuliah dan dikaruniai tiga orang anak.
Kini dia bersyukur
nasibnya cukup beruntung dan berhasil menyekolahkan anak-anaknya.
“Terima kasih Tuhan kau telah memberiku nikmat yang begitu besar.”
Ucap Mia dalam do’anya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar