Selasa, 15 Desember 2015

contoh cerpen

Jembatan Liku Menuju Kesuksesan



Sinar mentari perlahan muncul memasuki celah-celah tirai kamar seorang wanita yang usianya baru saja memasuki kepala empat. Waktu itu langit menampakan keindahannya dengan hiasan gumpalan awan putih yang terlihat seperti kapas dan terkadang bagaikan segerombolan domba yang sedang asyik bermain di padang rumput yang luas.
Hari itu adalah hari yang spesial baginya. Seorang wanita yang bernama Mia kini dia genap berusia empat puluh tahun. “Alhamdulillah, Allah masih memberiku kesempatan untuk senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya. ”Gumamnya dalam hati. Dia lalu membuka tirai kamar tidurnya dan melihat sekelompok burung pipit yang bersiul dengan ria tanpa memikul beban apapun. “Dulu aku suka menangkap burung di sawah bersama teman-temanku,” ujarnya sembari melamun. Dia teringat saat dirinya masih seorang anak kecil yang polos.
Saat masih kecil, ia sangat suka bermain bersama teman-temannya, berenang di sungai, mencari buah-buahan yang jatuh dari pohonnya dan memancing ikan di kolam kecil milik ayahnya.
Pada suatu sore ia melihat ayahnya bergegas. “Ayah mau pergi kemana?” tanya Mia.
 “Ayah mau bermalam di gubuk dekat sawah” jawab sang ayah.
“Boleh Mia ikut gak?” bujuk Mia.
“Kalau nanti kamu kedinginan gimana?” ujar sang ayah mencari alasan agar anaknya tidak ikut.
“Kan aku kuat yah, kalau Cuma kedinginan gak akan kenapa-kenapa, boleh yaa?” Mia mencoba meyakinkan ayahnya.
“Oke tapi sekali ini saja ya” pungkas ayahnya.
“Horeeee….. ikut ke sawah.”
Mereka pun berangkat ke sawah dengan berjalan kaki. Matahari mulai redup menjauhi mereka dan meninggalkan kegelapan yang semakin samar. Tak terasa jam dinding sederhana di dalam gubuk sudah menunjukan angka delapan tepat. Tiba-tiba “auuuuw……” suara serigala hutan terdengar mengaum dari kejauhan.
“Ayah Mia takut” rengek Mia.
“Sudahlah kamu tak perlu takut, serigala-serigala itu sudah biasa berkeliaran di sekitar sawah kita saat malam-malam begini,” ujar ayahnya mencoba menenangkan.
“Tapi Mia takut.” Mia merengek karena ketakutan.
“Mereka gak akan ganggu kita kok, asal kita juga jangan ganggu mereka.” Ujar sang ayah menenangkan. Akhirnya mereka pun tertidur pulas di dalam gubuk.
Keesokan harinya teman-teman Mia datang untuk bermain di sungai yang berada di dekat sawah milik ayahnya. “Miaaaa…. Main yuk mumpung masih pagi” anak-anak itu berteriak dari kejauhan.
“Gak mau ah dingin” jawab Mia.
“Yaaa cemen masa kalah sama dingin sih,” ejek mereka sambil membalikan jempolnya.
“Oke kalau gitu ayo kita renang.”
“Nah gitu dong, baru pemberani,” kata mereka.
Tujuh tahun kemudian, tak terasa dia sudah berusia lima belas tahun dan tibalah saatnya untuk memasuki jenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas. Dia memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di MAN Sukamanah yang jaraknya cukup jauh sekitar empat puluh kilometer dari rumahnya. Untuk menghemat tenaga dan biaya, dia memilih untuk tinggal di pondok pesantren Sukahideng yang berdekatan dengan sekolah itu.
Pada suatu malam yang gelap, saat dia tengah membereskan lemari pakaiannya, datanglah seorang gadis yang usianya kira-kira sama dengannya bersama satu orang temannya. “Hai kamu anak baru ya?” Mia yang tengah membereskan pakainnya agak terkejut namun segera membalas sapaan mereka dengan senyumnya yang manis. “Hai juga, iya aku anak baru di sini aku dari daerah Cikatomas, kalau kalian?” Tanya Mia.
“Sama kami juga anak baru di sini dan kami berasal dari Cirebon, kenalin aku Ratna dan ini saudaraku namanya Dini.” Jawab mereka sambil menurunkan tas yang terlihat penuh.
“Aku Mia, enak ya kalian bisa tinggal di sini sama-sama, Sedangkan aku? Hmmm…” ujarnya menggerutu.
Mereka akhirnya berteman dengan baik dan selalu bersama-sama kemana pun mereka pergi. Namun, hari-hari yang Mia jalani di kota orang bisa dibilang sangatlah sulit. Bagaimana tidak, dengan kondisi ekonomi keluarganya yang serba terbatas sedangkan kebutuhannya yang semakin kompleks membuat ia dan keluarganya harus berjuang cukup keras agar ia bisa tetap sekolah sampai lulus dari sana.
“Ya Allah apakah aku bisa bertahan di dalam situasi yang begitu menyulitkanku? Aku hanya bisa membebani orang tuaku.” Keluhnya sambil mengusap air matanya yang jatuh membasahi pipinya yang terlihat seperti bawang merah. “Sudahlah kamu jangan terus memikirkan bagaimana caranya kamu bisa mencukupi kebutuhanmu di sini. Yakinlah kalau Allah akan menolong hamba-Nya yang sedang mencari ilmu.”  Ujar Ratna teman yang selalu setia menemaninya. “Tapi aku bingung, aku cuma bisa nyusahin orang tuaku saja, kalau kamu enak bisa hidup serba berkecukupan sedangkan aku?” ujar Mia menatap Ratna dengan raut wajah kesedihan.
“Iya tapi kamu harus yakin kalau kamu bisa Vi, kamu itu kuat.” Ratna mencoba meyakinkan sahabatnya tersebut.
Akhirnya Mia bertekad akan berusaha dengan giat agar menjadi orang sukses dikemudian hari. “Pokoknya aku harus bisa mengubah nasibku, aku harus bisa membuat orang tuaku bahagia.” Ujar Mia mencoba menyemangati dirinya sendiri.
Hari demi hari terus ia jalani, ia menjadi siswa yang rajin di sekolahnya. Namun karena kesibukannya, ia sering lupa sarapan pagi hingga suatu saat ia merasakan sakit di perutnya. “Aduuh perutku sakit.” Ujarnya sambil memegang perutnya yang tengah kesakitan.
“Kamu kenapa Vi?” tanya Dini.
“Gak tahu tiba-tiba perutku  terasa sangat sakit.”
“Kamu sih suka telat makan, mungkin kamu menderita sakit maag.” Timpal Santi teman sebangku Mia.
“Mau aku bawa ke UKS? “ Tanya Dini menambahkan.
“Oke deh ayo” jawab Mia.
Jam dinding menunjukan pukul 14.00 tibalah saatnya bel pulang sekolah berbunyi, “treng..treng..treng..,” “horee..” teriak para murid laki-laki dengan riang gembira menyambut jam pelajaran berakhir.
Akhirnya Mia pulang dengan digandeng oleh Ratna dan Dini. “Perut kamu masih sakit gak?” tanya Ratna.
“Alhamdulillah sekarang udah mendingan” jawab Mia sambil tetap memegangi perutnya yang masih terasa sedikit sakit. “Makannya jangan lupa makan” ujar Dini mencubit tangan Mia.
“Auwwww… sakit tahu kayak anak kecil aja.” Jerit Mia yang kesal dicubit temannya tersebut.
“Anak kecil kan suka lupa makan, apa bedanya sama kamu.” Ejek Dini dengan nada bercanda.
“Iya deh, nanti gak akan lupa lagi.”
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Kini Mia sudah menginjak kelas 12. Suatu hari saat pertama masuk kelas baru, suasana begitu ramai dengan suara murid laki-laki yang sangat gaduh menikmati awal mereka tinggal di kelas yang baru. “Hai, gak nyangka kita bisa sekelas lagi ya, hehe…” kata Ratna kepada Mia dan Dini.
“Iya nih udah kaya puzzle aja gak bisa dipisahin” timpal Dini.
Empat bulan berlalu, rencananya sekolah akan mengadakan praktik kerja lapangan yang dikhususkan bagi siswa kelas 12, dan tempat yang menjadi tujuan adalah daerah Yogyakarta, tepatnya di candi Borobudur. Mereka ditugaskan untuk mencari informasi mengenai objek tersebut serta kehidupan masyarakat yang tinggal di daerah sekitar kawasan Yogyakarta.
“Vi, kamu satu kelompok sama siapa?” Tanya Ratna disela-sela waktu istirahat.
“Mmm…aku sama Fauzi, Hendi, Sifa dan Lia.” Jawab Mia. “Aku penasaran suasana di sana kayak gimana ya?” gumam Dini penasaran.
Hari keberangkatan PKL pun tiba. Mereka bergegas untuk segera berangkat. Perjalanan pun dimulai dan ada kejadian lucu selama di perjalanan, Zenal seorang murid laki-laki yang dikenal ceria dan tak bisa diam di kelas ternyata mabuk perjalanan hingga ditertawakan oleh teman-temannya yang lain. “Hahaha semalam aku mimpi apa ya, baru kali ini aku lihat kamu diam seribu bahasa,” kata Dian sambil memainkan sedotan di tangannya.
“Udah gitu diamnya karena mabuk lagi, haha…” timpal Robi mengejek.
Akhirnya selama Sembilan jam perjalanan mereka pun tiba di lokasi, dan mulai melakukan tugasnya masing-masing yaitu mencari informasi tentang candi Borobudur dan kehidupan masyarakat yang berada di daerah tersebut. Mereka melaksanakan tugasnya selama dua hari lalu diberi waktu untuk jalan-jalan dan menyegarkan kembali pikiran mereka. Ada yang berbelanja baju, makanan, dan ada juga yang hanya sekedar jalan-jalan santai.
Tak terasa, pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan sudah berakhir. Mereka pun pulang dan istirahat di rumah masing-masing. “Aduuh cape banget,” ujar Ratna.
“Iya nih capeee” tambah Mia sambil membaringkan tubuhnya di atas kasur.
Hari-hari terus berjalan. Mia tumbuh menjadi anak yang cerdas berkat semangat dan kerja kerasnya  yang membara. Namun, di tengah-tengah kesehariannya, mungkin karena kecapean dia jatuh sakit selama satu minggu. “Vi kita berobat yuk biar kamu cepet sembuh.” Ujar Ratna khawatir. “Gak perlu, aku gak punya uang untuk berobat” jawab Mia. “Kamu gak perlu khawatir aku dan teman-teman yang lain siap membantu kok.”
“Makasih ya, kalian udah baik banget sama aku.” Ucap Mia terharu.
“Kami semua kan temanmu juga, kesembuhanmu juga kebahagiaan bagi kami.”
          Akhirnya Mia dibawa ke rumah sakit dan menjalani perawatan selama tiga hari. Meskipun sedang dalam kondisi yang tidak sehat semangatnya untuk belajar tidak pernah pudar, tetapi malah semakin berkobar.
Setelah sakitnya sembuh, dengan tekad yang kuat Mia segera mengejar ketertinggalannya dalam pelajaran sekolah yang tidak ia pahami. Setiap ada waktu luang, Mia meminta bantuan kepada temannya agar bersedia untuk menerangkan materi yang ia tinggalkan selama masih mengalami sakit. “Yun, ajari aku Matematika ya… aku belum paham nih,” bujuk Mia.
“Oke aku ajarin, tapi ada syaratnya” ujar Yuni siswi yang terkenal pintar dalam pelajaran Matematika di kelasnya. “Yaah kok ada syaratnya sih, oke deh aku janji, tapi apa syaratnya” ujar Mia penasaran.
“Syaratnya sebelum aku ajarin kamu matematika, kamu harus temani aku main puzzle sama rubik dulu, oke?”
“Oke deh itu gampang, hehe” ucap Mia sambil tertawa.
          Tak terasa waktu terus berjalan, sebentar lagi dia akan dihadapkan dengan Ujian Nasional yang tinggal beberapa bulan lagi.
“Huh gak kerasa ya kita udah hampir tiga tahun di sini, hoaam” ujar Ratna di tengah teman-temannya yang sedang belajar bersama.
“Iya yah gak kerasa banget udah mau UN.” Timpal Dini.
“Eh rencananya nanti kamu mau kuliah di mana Vi? Tanya Ratna.
“Gak tahu nih aku juga masih bingung mikirinnya.”
          Waktu ujian nasional sudah semakin dekat, seluruh siswa-siswi MAN Sukamanah mulai giat belajar agar mereka bisa lulus ujian dengan hasil yang memuaskan. Program pengayaan mulai dikebut, guru-guru sibuk melatih anak didiknya dengan materi dan soal yang bervariasi. Karena syarat untuk lulus ujian nasional minimal harus meraih nilai 5,5.
          Mia bertekad untuk meraih nilai teringgi di sekolahnya. Dia mulai berlatih mengerjakan soal-soal yang didapat dari gurunya dan sebagai tambahan keilmuannya Mia juga membeli buku-buku yang berisi soal dan pembahasan Ujian Nasional  pada tahun-tahun sebelumnya yang uangnya diperoleh dari hasil tabungannya yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit. “Aku harus membuktikan kalau aku bisa.” Gumamnya dalam hati.
          Tibalah waktunya Ujian Nasional yang berlangsung selama empat hari. Hasil belajar dan latihan yang selama ini mereka jalani dipertaruhkan dalam momen tersebut. Akhirnya usai sudah perjuangan terakhir mereka di jenjang putih abu. Beberapa minggu kemudian hasil Ujian nasional diumumkan.
“Huh deg-degan nih nungguin hasilnya, mudah-mudahan kita bisa lulus dengan hasil yang memuaskan.” Ujar Mia ditengah kerumunan teman-temannya yang sedang berbagi cerita. “Aamiin” ucap mereka kompak.
          Pada suatu pagi yang cerah dengan berpakain seragam putih abu, anak-anak MAN Sukamanah berkumpul di Aula untuk menerima pembagian hasil Ujian Nasional. Dengan mimik wajah yang terlihat cemas, tentu saja mereka berharap mendapat nilai yang memuaskan. Bapak kepala sekolah membuka acara dan menyampaikan ceramah singkatnya.
“Baiklah mari kita bersama-sama membuka hasil Ujian Nasional yang sudah kalian jalani beberapa minggu yang lalu, bismillaahirrahmaanirrahiim,” amplop dibuka secara serentak dan ternyata apa yang diharapkan dan dicita-citakan oleh Mia terkabul. Dia meraih nilai yang cukup memuaskan, total nilai rata-ratanya mencapai 9,3.
“Horeee.., Alhamdulillah aku berhasil” ucap Mia dengan perasaan gembira seraya meneteskan air mata.
“Selamat yaa…” teman-temannya memberi ucapan selamat kepadanya. “Ternyata kerja keras kamu selama ini tidak sia-sia, aku juga seneng liatnya.” Timpal Ratna.
          Berakhirlah sudah perjuangannya selama tiga tahun di MAN Sukamanah. Meskipun jalan yang ia lalui sangat berliku namun ia berhasil melaluinya dan meraih hasil yang memuaskan.
          Mia memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di salah satu universitas ternama di Bandung dengan mengambil fakultas pendidikan Ekonomi dan akhirnya lulus sebagai seorang pendidik yang bergelar S2. Kebahagiaannnya semakin bertambah karena setelah itu dia juga menikah dengan temannya saat kuliah dan dikaruniai tiga orang anak.
          Kini dia bersyukur nasibnya cukup beruntung dan berhasil menyekolahkan anak-anaknya.
“Terima kasih Tuhan kau telah memberiku nikmat yang begitu besar.” Ucap Mia dalam do’anya.

         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar